Thursday, December 07, 2006
Yesus Kristus hamba Allah yang Setia
110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam (Jesus Christ), ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruh qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."
111. Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa (Jesus Christ) yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku." Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)."
112. (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa (Jesus Christ) berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?." Isa (Jesus Christ) menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman."
113. Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu."
114. Isa putera Maryam (Jesus Christ) berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama."
115. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia."
116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam (Jesus Christ), adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa (Jesus Christ) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib."
117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
118. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
119. Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar."
120. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sunday, October 08, 2006
Turunnya nabi Isa 'Alaihissalam - Yesus Kristus -
Kamis, 17 November 2005 - 06:32:05 :: kategori Aqidah
Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Source : www.salafy.or.id
.: :. Diantara tanda-tanda hari Kiamat Kubra adalah turunnya nabi Isa عليه السلام sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih dan mutawatir. Bahkan Allah سبحانه وتعالى telah mengisyaratkan tentang turunnya Isa عليه السلام sebagai tanda datangnya hari kiamat dalam firman-Nya:
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلاً إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ 57 وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ 58 إِنْ هُوَ إِلاَّ عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلاً لِبَنِي إِسْرَائِيلَ 59 وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلاَئِكَةً فِي اْلأَرْضِ يَخْلُفُونَ 60 وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلاَ تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ. الزخرف: 57-61
Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: "Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar sebagai ilmu tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kalian ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (az-Zukhruuf: 57-61)
Ayat terakhir dalam Firman Allah di atas yaitu وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ bermakna “Beliau عليه السلام merupakan ilmu tentang hari kiamat”.
Disebutkan dalam Tafsir al-Qurthubi bahwa yang dimaksud adalah turunnya nabi Isa عليه السلام merupakan ilmu tentang dekatnya hari kiamat. Lebih didukung lagi dengan bacaan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid dan lain-lain dari para imam ahlut tafsir yaitu وَإِنَّهُ لَعَلَمٌ لِلسَّاعَةِ dengan difathahkan huruf ‘ain dan lam-nya menjadi ‘alamun yang bermakna “tanda” (yang berarti “Isa عليه السلام sebagai tanda hari kiamat” -pen.). (Tafsir al-Qurthubi (16/ 105); lihat pula Tafsir ath-Thabari (25/90-91))
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya kepada Ibnu Abbas bahwa beliau berkata ketika menafsirkan وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَة: “Yang dimaksud adalah keluarnya Isa عليه السلام sebelum hari kiamat”. (Musnad Imam Ahmad: 4/329 no. hadits 2921 dengan tahqiq Ahmad Syakir dan beliau berkata: “Sanadnya Shahih”)
Diangkatnya Nabi Isa عليه السلام Termasuk isyarat akan turunnya Isa عليه السلام adalah berita tentang diangkatnya Nabi Isa عليه السلام -ruh dan jasadnya- ke langit dalam keadaan masih hidup. Sebagaimana disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firman-Nya:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا. النساء: 157-159
Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (an-Nisaa’: 157-159)
Dalam ayat ini kita mendapatkan beberapa pelajaran penting, diantaranya:
1. Nabi Isa عليه السلام tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah angkat kepada-Nya, yakni dari kalimat: بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ yang bermakna “Bahkan Allah angkat kepada-Nya”.
2. Para ahlul kitab akan beriman kepadanya sebelum kematian Nabi Isa عليه السلام. Ini merupakan isyarat bahwa Isa sebelum meninggalnya akan turun ke dunia dan ahlul kitab akan beriman kepadanya.
Isyarat al-Qur'an di atas dijelaskan lebih rinci dalam hadits-hadits yang shahih, diantaranya:
1. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ. (متفق عليه)
“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh akan turun di tengah kalian Ibnu Maryam عليه السلام sebagai hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi dan menggugurkan jizyah serta membagikan harta hingga tidak ada yang menerimanya seorangpun.
Kemudian Abu Hurairah berkata: “Bacalah oleh kalian –jika kalian mau—ayat:
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا. النساء: 159
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (an-Nisaa’: 159) (HR. Bukhari Muslim)
Disamping nash yang jelas dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang akan turunnya Isa عليه السلام, riwayat Abu Hurairah di atas memberikan pelajaran yang sangat penting bagi kita, yaitu tafsir seorang shahabat dan pemahaman salaf terhadap ayat Allah سبحانه وتعالى dalam surat an-Nisaa’ ayat 159 bahwa ahlul kitab akan beriman sebelum hari kiamat adalah ketika turunnya Isa عليه السلام.
Dengan jelas Abu Hurairah mengatakan bahwa ayat ini mengisyaratkan turunnya Nabi Isa عليه السلام di akhir zaman menjelang hari kiamat. Sedangkan kita mengetahui bahwa pemahaman para shahabat adalah pemahaman yang paling dekat dengan kebenaran, karena mereka telah mendapatkan rekomendasi dan pujian dari Allah dan Rasul-Nya sebagai umat yang terbaik, golongan yang selamat dan dijamin dengan keridlaan dan surga.
2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا أُنْزِلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟ (رواه البخاري ومسلم)Bagaimana kalian jika diturunkan di tengah kalian Ibnu Maryam, sedangkan imam kalian dari kalangan kalian. (HR Bukhari dan Muslim).
3. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه, beliau mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لاَ إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ. (رواه مسلم)
Akan tetap ada segolongan umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang sampai hari kiamat. Kemudian turun Isa Ibnu Maryam عليه السلام, maka berkatalah pemimpin mereka:”Kemarilah memimpin sholat kami”. Maka ia pun berkata: ”Tidak, sesungguhnya sebagian kalian memimpin sebagian yang lain, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.”(HR Muslim).
4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
اْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ِلأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلاً مَرْبُوعًا إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ مُمَصَّرَانِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَدْعُو النَّاسَ إِلَى اْلإِسْلاَمِ فَيُهْلِكُ اللَّهُ فِي زَمَانِهِ الْمِلَلَ كُلَّهَا إِلاَّ اْلإِسْلَامَ وَيُهْلِكُ اللَّهُ فِي زَمَانِهِ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ وَتَقَعُ اْلأَمَنَةُ عَلَى اْلأَرْضِ حَتَّى تَرْتَعَ اْلأُسُودُ مَعَ اْلإِبِلِ وَالنِّمَارُ مَعَ الْبَقَرِ وَالذِّئَابُ مَعَ الْغَنَمِ وَيَلْعَبَ الصِّبْيَانُ بِالْحَيَّاتِ لاَ تَضُرُّهُمْ فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ. (رواه أحمد وصححه ابن شاكر)
Para Nabi adalah seperti saudara sebapak, ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu. Sesungguhnya akulah yang paling berhak dengan Isa Ibnu Maryam karena tidak ada antaraku dan dia seorang nabi pun. Sungguh dia akan turun, maka jika kalian melihatnya kenalilah dia! Dia adalah seorang yang berkulit antara merah dan putih dalam keadaan berpakaian dua kain yang bercelup ja’faran, rambut-nya seperti meneteskan air padahal tidak basah. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi, menggugurkan jizyah, dan mengajak manusia kepada agama Islam. Allah binasakan pada zaman-nya seluruh agama-agama selain Islam. Allah binasakan juga Dajjal. Maka terjadilah keamanan di muka bumi hingga singa-singa merumput bersama dengan unta-unta, macan-macan dengan sapi-sapi, dan serigala-serigala dengan domba-domba, serta anak-anak kecil bermain dengan ular-ular dengan tidak memberikan madharat sedikit pun kepada mereka. Demikianlah berlangsung selam empat puluh tahun, kemudian beliau meninggal dan dishalatkan oleh kaum muslimin. (HR Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
5. Hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat yang diantaranya menyebutkan akan turunnya Isa عليه السلام yaitu hadits Hudzaifah Ibnu Usaid dan lainnya dalam Shahih Muslim dan lain-lain. (Lihat pembahasan yang telah lalu)
Kami tidak memuat seluruh hadits-hadits tentang turunnya Isa عليه السلام karena terlalu banyaknya. Sebagian riwayat terkandung dalam kisah Dajjal, sebagian lain-nya diriwayatkan berkenaan dengan hadits-hadits Imam Mahdi. Atau riwayat-riwayat yang khusus menceritakan tentang turunnya Isa عليه السلام di akhir zaman.
Hadits-hadits tersebut dimuat di hampir seluruh kitab-kitab hadits. Dalam kitab-kitab Shahih terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan lainnya; dalam kitab-kitab sunan seperti Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan lain-lainnya; ataupun dalam musnad-musnad seperti Musnad Imam Ahmad dan lain-lainnya.
Oleh karena itu sama sekali tidak tepat jika dikatakan hadits-hadits tersebut berderajat Aahaad, apalagi menyatakan hadits-hadits tersebut tidak bisa dipakai sebagai hujjah, sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok sesat mu’tazilah dan para pengikutnya atau kelompok kafir Qadiyaniyah Ahmadiyah.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nabi Isa عليه السلام masih hidup sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kitab Shahih (Bukhari dan Muslim -pen.) Dan akan turun sebagaimana telah tsabit dalam hadits nabi صلى الله عليه وسلم:
يَنْزِلُ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا عَادِلاً وَإِمَامًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ. (متفق عليه)
Akan turun di tengah kalian Isa bin Maryam صلى الله عليه وسلم sebagai hakim yang adil dan Imam yang bijaksana. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi dan menggugurkan jizyah. (Bukhari Muslim)”. (Majmu’ Fatawa, jilid 4/322)
[Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Arief Subekti HP 081564690956. Untuk memperdalam ilmu dan informasi dakwah baca: majalah Asy-Syari'ah & An-Nasihah atau klik www.asysyariah.com dan www.salafy.or.id.]
(Dikutip dari Bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 70/Th. II tgl 08 Jumadi tsani 1426 H/15 J u l i 2005 M, judul asli Tanda-tanda Hari Kiamat, turunnya Nabi Isa 'alaihissalam, penulis asli Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed)
Sunday, September 17, 2006
Allah ...
Allah, suatu zat yang tidak dapat dinilai dalam skala pikiran manusia, melebihi segala hal yang ada di alam semesta ini. Manusia dan makhluk lainnya bahkan benda mati membutuhkan Allah, untuk segala pengaturan-Nya. Manusia sangat lemah bahkan bodoh, namun Allah menjadikan manusia berpikir sebagai kekuatan-Nya pada setiap pribadi manusia sebagai Rahmat dari Allah. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam jarak maupun waktu. Allah selalu ada untuk umat-Nya, setia dalam mengasihi dan menyayangi untuk setiap pribadi manusia tanpa membedakan harta dan nilai duniawi.
Pertanyaannya, Allah setia untuk kita, lalu apakah kita setia untuk Allah? Atau mungkin kita belum mengenal Allah? Atau kita telah menfitnah Allah? Atau mungkin juga kita telah mengkhianati Allah?
Allah bukanlah benda, hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Allah adalah zat yang tidak dapat didefinisikan karena keagungan-Nya yang amat sangat. Allah sangat agung dan mulia, tidak ada yang setara dengan-Nya, karena semua adalah ciptaan-Nya, tidak ada kekuatan di atas kekuatan Allah dan tidak ada kekuataan di luar kekuatan Allah. Allah tidak membutuhkan pribadi lain untuk membantu diri-Nya, Allah dapat menyelesaikan segala halnya dengan pribadinya yang satu (Esa), hanya dengan kata “Jadi” maka Jadilah itu. Terkadang tanpa kita sadari, kita sering menfitnah Allah dan mengkhianati Allah ditengah-tengah ibadah kita dan di tengah puji-pujian kita terhadap-Nya. Sadarkah kita? Dimanakah letak kesalahan kita pada Allah? Kita telah “menyakiti”-Nya, kita sebut nama-Nya dalam kebohongan. Kita khusyuk dalam ibadah kita yang berada pada ketiadaan pengakuan kuasa Allah. Kita sering tidak menyadarinya. Allah menyuruh kita untuk berpikir, merenungi apa yang telah kita lakukan sehingga dapat “menyakiti” Allah. Kesalahan terbesar dan paling sering kita lakukan adalah “berlebihan” dalam mengenal esensi Allah.
Allah tetaplah mulia walau kita tidak mengenal-Nya. Allah tetaplah ada walaupun kita semua tidak mengakuinya. Allah tidak membutuhkan kita, tetapi kita lah yang membutuhkan Allah. Allah Maha Kuasa, Allah dapat saja menggantikan kita dengan umat yang lebih taat kepada-Nya dan lebih mengenal esensi-Nya, maukah kita digantikan oleh Allah? Sungguhlah rugi jika kita termasuk orang yang digantikan.
Kutipan:
Qs. 71: 16, Qs. 16: 79, Qs. 16: 68, Qs. 21: 31, Qs. 23:14, Qs. 14:32, Qs. 35: 13, Qs. 2: 87
This Article specially dedicated for Allah and Someone (ahlul kitab) in my mind.
(learningpsychology.blogspot.com, Right to copy 2006, cantumkan url sumbernya)
Monday, June 19, 2006
Iman dalam Pikiranku
By. Keken Yudha Saputra M.
Bagiku Iman adalah Keinginan untuk Mengikuti dari apa yang diYakini.
Banyak Manusia yang terjebak dalam keImanan mereka, Iman baginya adalah sebatas mempercayai dan meyakini, dan terjebak dalam konsekuensi (ritual) Iman tersebut.
Iman tidak hanya sebatas menyakini, Tapi Tuhan memberikan kita Pikiran untuk kita berpikir akan keabsahan dari Iman kita.
Bayangkan ada berapa banyak manusia yang mengaku memiliki Iman, dan masing-masing memberikan kesaksian dari keimanan mereka. Apakah semuanya benar? Saya pikir TIDAK, pasti salah satunya adalah benar dan yang lainnya hanya terjebak dalam Iman yang sebenarnya kosong.
Sering dari kita berpikir bahwa Iman bukan untuk dipikirkan benar atau tidaknya tetapi untuk diyakini. Hal ini benar namun Tuhan memberikan kita pikiran bukan untuk tidak mempertanyakan Iman. Justru Tuhan memberikan kita pikiran adalah untuk mencari keImanan yang sebenarnya. sebagian orang merasa tidak ingin menyangsikan keImanan mereka hanya karena sebuah "Ideologi bahwa Iman bukan filsafat", dan akhirnya kita terjebak dalam keImanan kita, yang kita sendiri tidak mau meneliti kebenarannya. Sungguh Rugi jika ternyata yang kita Imankan ternyata kosong!
Iman kosong berarti hanyalah harapan dan ritual yang tidak bernilai bagi Sang pemilik Kebenaran (Tuhan), pemilik Iman yang seperti ini sangat merugi dan sungguh merugi.
Kebanyakan manusia hanya mengadopsi Iman dari orangtuanya. Imannya tergantung dari mana dia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Seperti halnya seorang anak yang dilahirkan dari keluarga Muslim yang dari kecil oleh orang tuanya dididik dalam pendidikan Islam dan besar dalam pergaulan Islam, maka diapun beriman akan Islam, begitu juga dengan seorang Kristiani atau Yahudi yang dilahirkan dari keluarga Kristen/ Yahudi dan selalu dalam berada pendidikan Al Kitab, maka diapun akan menjadi seorang Kristiani/ Yahudi. Pada akhirnya dia hanya menyatakan bahwa "ini" adalah keImanan yang paling hakiki(benar).
Hal ini hanya menjadikan kita sebagai manusia yang konsumtif dan tidak mau menyangsikan keImanan yang diajarkan oleh orangtua kita dan tidak mau berpikir untuk mengenal keImanan diluar yang diajarkan oleh orangtua kita, kita hanya menerima, menerima, dan menerima.
Adakah kita merasakan bagaimana orang yang memiliki Iman yang berbeda dengan kita dalam merasakan nikmat Imannya bagi dia? Kebanyakan dari kita tidak mau tau akan nikmat Iman yang dirasakan oleh orang lain.
Iman sebagai alat penentu masa yang akan datang bagi diri kita sendiri. Surgakah atau neraka? dengan kata singkat, "Iman benar maka surga dan Iman yang kosong maka neraka". Beberapa Agama besar dunia mengadopsi kalimat itu.
Adakah terpikirkan bahwa, Apakah yang selama ini kita Imani adalah yang paling hakiki, sedangkan diluar sana sangat banyak Iman-iman yang lain?
Bagiku Iman bisa dibuktikan oleh pikiran manusia..Iman tidak takut akan Ilmu Filsafat. Iman adalah kebenaran sedangkan filsafat adalah pembuktiaan kebenaran.
Banyak yang menjadi Atheis karena Ilmu Filsafat, mengapa? karena mereka belum sampai menemukan kebenaran melalui filsafat dan sudah berhenti sebelum ditemukannya kebenaran itu.
Kebenaran akanlah tetap kebenaran...!
*.* Nb. Pesan: Coba lihatlah Imanmu dan Iman saudaramu..! Agar kita termasuk Manusia yang berpikir, karena sesungguhnya Allah menyukai manusia yang berpikir. Dan semoga kita tidak tersesat dalam Iman yang sebenarnya kosong. Kebenaran akan tersingkap oleh pencarian kebenaran. Mengapa terdapat banyak kesaksian Iman di dunia ini, padahal Iman sebenaranya hanya ada 1, hal ini dalah disebabkan oleh keBohongan besar yang dilakukan oleh tangan-tangan musuh Allah. Untuk itu jangan sampai kita terjebak oleh keBohongan itu, maka berpikirlah, carilah, renungkan, mohonkan pada Allah untuk menemukan kebenaranNya.
Di bawah ini, ada beberapa kalimat dan kisah dari beberapa kitab yang mendorong dan enganjurkan kita untuk mencari kebenaran. Tunggu apalagi, Carilah kebenaran itu.!!
Al Kitab (Perjanjian Baru & Perjanjian Lama)
Allah akan menyesatkan manusia yang tidak mau mencari kebenaran Allah yaitu orang yang tidak mau berpikir untuk mencari-Nya.
Roma Pasal 10 ayat 3 : “Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”
Namun Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya yang mau berpikir dan mencari-Nya (kebenaran Allah). Mazmur pasal 9 ayat 11 : "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN"
Al Qur’an
Nabi Musa .as (moses) berusaha mencari kebenaran Tuhan-Nya dengan gigih, sehingga Tuhan pun menunjukkan jalan-Nya sampai pada akhirnya Musa menemukan kebenaran itu. Surat Al A’raaf ayat ke 143 : “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."
Lihatlah kisah seorang Nabi Ibrahim .as (Abraham) yang juga penuh dengan kegigihan dalam mencari kebenaran (Tuhannya) dan dia siap menyangsikan Agama bapaknya (penyembahan berhala) demi menemukan kebenaran yang hakiki.
Surat Al An’aam ayat ke 74-83 :
74. Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."
75. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."
78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
80. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?"
81. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?
82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
83. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Betapa senangnya kita bila kita dapat menemukan Iman (Agama) Allah yang sebenarnya. Dan mengagungkan Nama dan Kerajaan-Nya dengan jalan yang sebenarnya.
Tidak ada maksud menyudutkan suatu Agama dalam tulisan ini. Tulisan ini ditulis untuk semua umat manusia yang ingin bertemu dengan Tuhannya, Tuhan yang selalu memberikan kenikmatan selama ini, Tuhan yang selalu memeliharanya disetiap waktu. Dan demi kerinduan untuk melayani Tuhan yang selalu melayani kita, maka tulisan ini ditulis.
#Semoga tulisan ini diridhoi Allah dan mohon ampun jika dalam penulisan ini terdapat kesalahan yang tidak diinginkan oleh-Nya. Yang benar hanyalah datang dari Allah sedangkan yang salah hanyalah karena kelalaianku.
Mohon maaf bila terdapat kesalahan, saya menerima kritikkan demi kesempurnaan tulisan ini.
Ttd. Hamba Allah
Keken Yudha Saputra M.