Sunday, September 17, 2006

Allah ...

Allah berasal dari kata al-Ilah yang berarti Tuhan, sebutan untuk pencipta semesta alam, yang menjadikan ketiadaan menjadi sesuatu yang ada, yang memelihara sesuatu itu sehingga bernilai, yang memegang kendali atas alam semesta, yang menjadikan matahari sebagai lampu, yang menahan burung-burung dari jatuh dikala terbang, yang memberi petunjuk kepada lebah dimana dia harus membangun sarangnya, yang menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar bumi ini tidak goncang, yang menjadikan air mani menjadi segumpal daging dan tulang benulang agar dijadikannya makhluk, yang menurunkan hujan dari langit agar menghasilkan buah-buahan sebagai rizki dan nikmat, yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, yang memelihara Agama-Nya dimuka bumi ini, yang menghembuskan Roh Kudus kepada kristus, yang menghibur umat-Nya dengan mengutus nabi-Nya. Allah mengatur segala halnya dengan sempurna, tidak ada kendali di luar kuasa Allah.

Allah, suatu zat yang tidak dapat dinilai dalam skala pikiran manusia, melebihi segala hal yang ada di alam semesta ini. Manusia dan makhluk lainnya bahkan benda mati membutuhkan Allah, untuk segala pengaturan-Nya. Manusia sangat lemah bahkan bodoh, namun Allah menjadikan manusia berpikir sebagai kekuatan-Nya pada setiap pribadi manusia sebagai Rahmat dari Allah. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam jarak maupun waktu. Allah selalu ada untuk umat-Nya, setia dalam mengasihi dan menyayangi untuk setiap pribadi manusia tanpa membedakan harta dan nilai duniawi.

Pertanyaannya, Allah setia untuk kita, lalu apakah kita setia untuk Allah? Atau mungkin kita belum mengenal Allah? Atau kita telah menfitnah Allah? Atau mungkin juga kita telah mengkhianati Allah?

Allah bukanlah benda, hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Allah adalah zat yang tidak dapat didefinisikan karena keagungan-Nya yang amat sangat. Allah sangat agung dan mulia, tidak ada yang setara dengan-Nya, karena semua adalah ciptaan-Nya, tidak ada kekuatan di atas kekuatan Allah dan tidak ada kekuataan di luar kekuatan Allah. Allah tidak membutuhkan pribadi lain untuk membantu diri-Nya, Allah dapat menyelesaikan segala halnya dengan pribadinya yang satu (Esa), hanya dengan kata “Jadi” maka Jadilah itu. Terkadang tanpa kita sadari, kita sering menfitnah Allah dan mengkhianati Allah ditengah-tengah ibadah kita dan di tengah puji-pujian kita terhadap-Nya. Sadarkah kita? Dimanakah letak kesalahan kita pada Allah? Kita telah “menyakiti”-Nya, kita sebut nama-Nya dalam kebohongan. Kita khusyuk dalam ibadah kita yang berada pada ketiadaan pengakuan kuasa Allah. Kita sering tidak menyadarinya. Allah menyuruh kita untuk berpikir, merenungi apa yang telah kita lakukan sehingga dapat “menyakiti” Allah. Kesalahan terbesar dan paling sering kita lakukan adalah “berlebihan” dalam mengenal esensi Allah.

Allah tetaplah mulia walau kita tidak mengenal-Nya. Allah tetaplah ada walaupun kita semua tidak mengakuinya. Allah tidak membutuhkan kita, tetapi kita lah yang membutuhkan Allah. Allah Maha Kuasa, Allah dapat saja menggantikan kita dengan umat yang lebih taat kepada-Nya dan lebih mengenal esensi-Nya, maukah kita digantikan oleh Allah? Sungguhlah rugi jika kita termasuk orang yang digantikan.

Kutipan:
Qs. 71: 16, Qs. 16: 79, Qs. 16: 68, Qs. 21: 31, Qs. 23:14, Qs. 14:32, Qs. 35: 13, Qs. 2: 87

This Article specially dedicated for Allah and Someone (ahlul kitab) in my mind.

(learningpsychology.blogspot.com, Right to copy 2006, cantumkan url sumbernya)